TINJAU KERUSAKAN: Jajaran Forkopimda Jabar saat melihat kondisi DAS Cilamaya yang tercemar akibat limbah dan sampah. Kini, tengah difokuskan membenahi agar air tersebut bisa memberi manfaat bagi masyarakat. (FOTO HUMAS PEMPROV JABAR)

Trik Licik Perusahaan Industri

BANDUNG – Memasuki musim hujan kerap dimanfaatkan oleh oknum perusahaan industri dalam membuang limbah ke sungai. Modus tersebut dilakukan lantaran dalam kondisi hujan, air limbah akan menyatu dengan air hujan sehingga tidak diketahui oleh kasat mata.

Mengantisipasi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat (Jabar) berserta Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum akan terus mengawasi secara ketat.

Kepala Dinas DLH Jabar, Prima Mayaningtyas menuturkan, berkaitan dengan pengelolaan lingkungan di industri dan pemantauan, di dalamnya terdapat persyaratan yang harus dipatuhi.

“Ketika mengacu pada persyaratan, maka mereka harus mengelola lingkungan dari hasil produksi dengan baik. Kalau dia mengeluarkan air limbah, ya harus dikelola airnya dengan baik,” tegas Prima saat dihubungi Jabar Ekspes, Kamis (12/11).

“Pun sama halnya dengan udara, harus melakukan pengolahan dengan baik. Dan seluruh kegiatan yang berinfek kepada kompenen lingkungan yang ada di badan perairan (kalau untuk sungai) udara dan sebagainya,” imbuhnya

Prima menambahkan, sebetulnya pemerintah sangat membutuhkan komitmen dari pada industri untuk bisa mengolah dengan baik. Sehingga kegiatan industri tidak merusak lingkungan.

Lebih jauh dirinya menjelaskan, program yang DLH lakukan berkaitan dengan pengendalian perusakan dan pencemaran lingkungan akibat kegiatan industri masih terus digalakkan.

“Ini kan melihat bagaimana performa industri ke arah pembinaan. Sebagaimana hari ini (kemarin) saya melakukan pengawasan sidak, kita meninjau ke lapangan, bagaimana pengelolaan lingkungannya,” jelasnya.

Prima juga menegaskan, tidak akan segan-segan menindak jika menemukan industri yang melakukan pencemaran lingkungan dan melanggar aturan.

“Kami tidak segan-segan bersikap tegas. Karena ini kalau sudah sifatnya mencemari ada pelanggaran, kita sudah pasti menggandeng kepolisian dan aparat penegak hukum terkait,” tegasnya.

Tak hanya pengawasan dan pembinaan intens, Prima menyebut, telah melakukan patroli sungai di berbagai sungai. Salahsatunya, Citarum, Cimalaya, Cileungsi. Guna mengawasi terjadinya pencemaran lingkungan.

“Contoh hari ini (kemarin), kita ke industri atas dasar patroli sungai, dan semuanya ada di video, ada foto, dan titik koordinatnya sudah jelas. Nah atas dasar itu kita semua turun untuk sidak ke industri tersebut,” ucapanya.

Dalam pengawasan sungai, ia mengatakan tak hanya bekerjasama dengan aparat TNI saja. Namun, memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengawasi.

“Upaya yang maksimal kita pun memberdayakan masyarakat. Ikut mengawasi terhadap pengawasan di industri. Nah sekarang di Citarum banyak tentara. Citarum ini benar-benar dengan pasukannya cukup banyak sejumlah 1.400 orang digelar,” paparnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen membenahi daerah aliran sungai Cilamaya yang melintasi tiga Kabupaten, yaitu Purwakarta, Subang dan Karawang.

Sungai Cilamaya yang memiliki panjang lebih dari 97 kilometer saat ini kondisinya perlu perhatian lebih, sebab air sungai telah tercemar terlebih saat memasuki musim kemarau, hingga mengakibatkan sungai berwarna hitam.

“Jajaran Forkopimda Jabar dan tiga (pemerintah daerah) kabupaten, yaitu Karawang, Purwakarta, dan Subang melakukan susur sungai untuk inspeksi dalam rangka bertekad mengembalikan Sungai Cilamaya menjadi sungai yang bersih dan kembali menjadi sumber kehidupan yang menyehatkan bagi masyarakat,” ujar Gubernur Jabar, Ridwan Kamil belum lama ini.

“Terjadi pencemaran utamanya di musim kemarau, warna sungai bisa sangat hitam, sehingga banyak aspirasi dari masyarakat dan aktivis lingkungan agar kita bisa mengendalikan Sungai Cilamaya seperti Sungai Citarum,” tambahnya.

Adapun DAS Cilamaya sendiri meliputi 8 kecamatan di Kabupaten Purwakarta dengan panjang ruas sungai 75,5 km, 7 kecamatan di Kab. Subang (49 km), dan 7 kecamatan di Kab. Karawang (36,3 km).

Sungai sepanjang lebih dari 160 km ini kerap berwarna hitam, berbusa, dan berbau busuk terutama di musim kemarau. Dengan pencemaran itu, para peternak dan petani di sepanjang Sungai Cimalaya pun kesulitan mencari sumber air. (mg1/drx)

Check Also

Per Kelurahan Dijatah 8.000 Vaksin, Sasaran Penerima Usia 18-59 Tahun

BEKASI– Uji coba vaksin di Provinsi Jawa Barat telah memasuki fase ketiga. Berkaitan dengan hal ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *