Perbankan Belum Stabil Pulihkan Ekonomi

BANDUNG — Perbankan menjadi salah satu instrument penopang percepatan pemulihan ekonomi nasional. Karena Pandemi Covid-19, peran bank sebagai penggerak ekonomi melalui produk kreditnya belum berjalan normal.

Demikian dikatakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad) Nanny Dewi dalam Dialog Online Recovery Center yang digelar Komite Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah (KPED) Jabar, belum lama ini. Kata dia, penyaluran kredit selama Pandemi Covid-19 cenderung flat.

Kalaupun ada pertumbuhan, jumlahnya tidak besar. Hal itu, menurutnya, disebabkan oleh dua faktor utama. Faktor pertama, karena permintaan kredit dari dunia usaha belum meningkat. ‘’Artinya, dunia usaha juga masih wait and see. Melihat kondisi pandemi yang belum menunjukkan kapan akan berakhirnya,’’ kata Nanny.

Faktor kedua, kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit. Nanny menuturkan, perbankan tetap melakukan kebijakan prudential untuk mengantisipasi lonjakan kredit macet (NPL). Saat ini, lanjut dia, NPL perbankan masih tinggi, yakni di atas tiga persen. Meskipun di September agak menurun, dari 3,55 ke 3,22 persen, namun dinilai masih tinggi.

‘’Banyak dunia usaha bermasalah dalam penyelesaian kewajiban kreditnya. Ini juga yang mengakibatkan perbankan jadi berhati-hati dalam penyaluran kreditnya,’’ tambahnya. Selain itu, kata Nanny, dana dari pihak ketiga masih terus naik. Kondisi itu menandakan bahwa masyarakat tidak mau spending dan lebih banyak menyimpan dananya di bank.

Karena enggan spending money, maka demand terhadap barang dan jasa menjadi berkurang. Kondisi tersebut tentu dapat menghambat pemulihan ekonomi. Karena, kata Nanny, perbankan merupakan salah satu bagian perekonomian yang memiliki fungsi dan tugas dalam pemulihan ekonomi.

Sementara pembicara lainnya, Mokhamad Anwar menuturakan, perbankan di Indonesia intens melakukan efisiensi. Hal itu dilakukan agar bank mampu bertahan di tengah ketidakpastian akibat pandemi COVID-19.

Ada banyak langkah efisiensi yang sudah dilakukan perbankan di Indonesia. Pertama, perbankan menerapkan work from home (WFH) bagi sebagian karyawan. ‘’Jadi, ada yang masuk seminggu beberapa kali, ada sebagian di rumah dan masuk,” kata Anwar.

Kemudian, kata Anwar, banyak perbankan yang menutup sebagian kantor cabang. ‘’Itu bukti bahwa yang dilakukan bank adalah upaya-upaya efisiensi,’’ tuturnya. Lalu yang ketiga, tutur dia, yakni efisiensi biaya operasional dibandingkan kondisi normal.

Check Also

FKDM Jabar Himbau Masyarakat Tidak Panik Tanggapi Hepatitis Akut

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Jabar, Yayat Hidayat menghimbau agar masyarakat tidak panik menyikapi penyebaran ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *