BARANG BUKTI: Wakasat Narkoba Polresta Bandung, AKP Kusmawan saat memperlihatkan barang bukti di home industri narkoba di Dayeuhkolot

Antisipasi Peredaran Narkotika, DPRD Dorong Pembentukan BNK

SOREANG – Narkoba sangat berbahaya dan mengganggu masa depan dari penggunanya. Oleh karena itu, agar dapat terhindar dari bahaya narkoba khususnya di kalangan pemuda yaitu dengan cara menyibukan diri melalui kegiatan yang positif.

Hal tersebut dikatakan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Dadang Supriatna. Menurutnya, dengan kondisi di tengah pandemi Covid 19, memaksa anak usia sekolah menjalankan kegiatan belajar mengajar dirumah dan harus lebih tekun dalam belajar. Sehingga, tidak akan terpengaruh oleh kenakalan remaja yang ada lingkungan rumahnya masing-masing.

”Agar terhindar dari bahayanya Narkoba, maka anak-anak harus dikuatkan mental dan akhlak, maka anak-anak harus selalu meningkatkan pengetahuannya dengan diimbangi oleh pengetahuan agamanya,” kata Dadang saat di wawancara, Selasa (28/7).

Menurut Dadang, dengan terungkapnya home industri pembuatan obat-obatan berbahaya di wilayah Kabupaten Bandung. Ia berharap, Badan Narkotika Kabupaten (BNK) di kabupaten Bandung harus segera di bentuk. Pasalnya hingga saat ini kabupaten Bandung tidak ada BNK. ”Dengan adanya, maka bisa mencegah peredaran narkoba di Kabupaten Bandung,” jelasnya.

Dadang menjelaskan, baik BNN maupun BNNP Jawa Barat sudah mendorong pembentukan BNK ini, tapi dari pihak kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti saran tersebut. ”Seharusnya, jangan ada pihak yang menyepelekan organisasi yang memiliki manfaat bagi masyarakat Kabupaten Bandung, karena organisasi itu bisa menyelamatkan generasi bangsa,” tuturnya.

Sementara itu ditempat yang berbeda, Wakasat Narkoba Polresta Bandung, AKP Kusmawan mengatakan, bagi seseorang yang sudah mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang maka bisa mengancam keselamatan jiwa yang bersangkutan, karena kesehatannya akan terganggu dan kemudian lambat laun, yang bersangkutan akan sulit untuk menjalani hidup normal.

”Apabila si pengguna tidak sesegera mungkin untuk berhenti mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan menjalani rehabilitasi secara medis dan sosial, maka tidak akan hidup normal,” tegasnya.

Kusmawan menjelaskan, untuk mengantisipasi peredaran narkoba dikalangan remaja. Pihaknya telah berulang kali melakukan kegiatan sosialisasi dan penyuluhan ke sekolah-sekolah. Namun, osialisasi tidak hanya dilakukan di sekolah tapi juga di lingkungan tempat anak bermain seusai sekolah.

”Setelah sekolah adalah waktu yang harus paling dilakukan pengotrolan. faktor lingkungan dianggap sebagai salah satu pengaruh yang paling kuat, sehingga jangan sampai ada anak yang bermain di lingkungan atau komunitas yang salah, apalagi tidakada pengotrolan yang dilakukan keluarga maupun sekolah,” pungkasnya. (yul/rus)

Check Also

Per Kelurahan Dijatah 8.000 Vaksin, Sasaran Penerima Usia 18-59 Tahun

BEKASI– Uji coba vaksin di Provinsi Jawa Barat telah memasuki fase ketiga. Berkaitan dengan hal ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *